Ironi Impor Limbah Industri Makanan

Ironi Impor Limbah Industri Makanan

Ironi Impor Limbah Industri Makanan

Ironi Impor Limbah Industri Makanan- Berdasarkan laporan Juni 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa kinerja impor menurun saat pandemi melanda Tanah Air. Mungkin Hampir di semua komoditas impor mengalami penurunan yang sangat dramatis di tengah upaya kita memenuhi kebutuhan dalam negeri efek akibat pandemi Covid-19.

Namun di tengah pelemahan perdagangan Internasional kita, masih ada beberapa impor komoditas yang terus bertumbuh walaupun rata-rata komoditas lainnya menurun.

Ironisnya, komoditas tersebut masuk dalam kelompok limbah sisa industri makanan yang akan digunakan untuk bahan baku pakan ternak. Sebulan sebelumnya, BPS mempublikasikan nilai impor Indonesia pada Aprilrun 12,54 miliar dolar AS atau sekitar Rp 180,6 triliun.

Angka tersebut 6,1 persen lebih rendah di bandingkan dengan nilai impor pada Maret 2020. Impor April 2020 juga lebih rendah 18,58 persen dibandingkan April 2019.

Covid-19 jelas sudah memporak-porandakan kinerja ekspor-impor kita, sehingga baik impor migas maupun nonmigas mengalami penurunan selama masa karantina wilayah.

Dari semua golongan Barang HS 2 Digit di kelompok non migas mengalami penurunan. Komoditas logam mulia dan perhiasan merupakan determinan utama penyebab nilai impor turun pada April 2020.

Dari 10 golongan utama HS 2 digit, nilai impor 5 golongan komoditas nonmigas mengalami peningkatan sebagai langkah antisipasi meningkatkan demand dalam negeri akibat Covid-19.

Impor yang meningkat saat pandemi adalah mesin dan perlengkapan elektronik (naik 3,5%), ampas atau sisa industri makanan (naik 72%), produk kimia (naik 23,45%), pupuk (naik 109,4%), dan sayuran (naik 113%).

Komoditas yang paling perlu untuk dianalisis adalah kenaikan impor untuk ampas atau sisa industri makanan. Limbah industri makanan itu sendiri menjadi komoditas impor yang memiliki kinerja positif selama pandemi.

Di saat semua golongan komoditas tumbuh negatif, impor limbah makanan justru melonjak 10,16 persen atau naik Rp 1,65 triliun selama periode Januari hingga Mei 2020.

Menurut BPS, impor limbah makanan yang di dominasi bungkil kedelai dari Argentina di gunakan sebagai bahan campuran pembuatan pakan ternak khususnya untuk unggas.

Selama ini, Indonesia dinilai belum bisa memenuhi kebutuhan pakan dari bungkil kedelai sendiri karena semua produksi kedelai dalam negeri habis dikonsumsi dan dijadikan bahan makanan seperti tahu dan tempe. Dengan alasan tersebutlah keran impor limbah makanan terus dibuka, walaupun di tengah pandemi.

Pertanyaannya, sebegitu bergantungkah Indonesia pada ampas makanan dari negeri orang? Dan, kenaikannya justru saat terjadi pandemi. Buat siapa impor ampas makanan yang bernilai triliun rupiah tersebut?

Rata-rata tahunan domestik membutuhkan 4,2 juta ton untuk produksi pakan ternak, seperti pakan unggas, ikan, dan udang. Dan, nilai impor limbah makanan Indonesia mencapai Rp 23 triliun per tahun.

Nilai impor tersebut hampir sama dengan impor bungkil kedelai seluruh daratan Eropa. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, Indonesia terpaksa impor limbah sisa kedelai.

Idealnya impor bungkil kedelai yang bernilai triliunan rupiah harus menjadi penyeimbang pasar di saat kondisi pasar melemah. Dampak impor pertama yang mesti dirasakan masyarakat adalah harga pakan yang murah disebabkan jumlah pakan yang melimpah di pasar.

Ampas bungkil kedelai yang telah diperas minyaknya digunakan sebagai bahan campuran jagung dan beberapa bahan baku pakan lainnya, memiliki harga yang mahal sehingga meskipun nilai impor limbah kedelai mencapai triliunan rupiah, tetap saja volume yang diimpor tak cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri.

BPS menyebutkan, impor ampas bungkil kedelai untuk menyokong ketahanan pangan seperti produksi daging unggas, telur, ikan, dan produk-produk ternak lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *